Prins David Saut - detikNews
Jakarta - Ide kepolisian untuk membantu gedung baru
Sekolah Darurat Kartini ternyata berawal dari rasa empati Kapolsek
Pademangan Kompol Susatyo Purnomo yang tersentuh dengan perjuangan ibu
guru kembar di sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu tersebut.
Rasa empati itu muncul saat polisi sedang mengamankan pembongkaran
bangunan liar di kompleks pergudangan Jakarta, Gudang Kampung Bandan,
tempat sekolah itu berdiri, pada 8 November lalu.
"Awalnya saya
ke sini terkait penggusuran tanggal 8 November, datang melihat ini masih
ada rumah-rumah (penggusuran) lalu saya lihat sekolah ini. Ibu ini
berkeluh kesah, saya terenyuh anak-anak ini hanya makan di sekolah ini
saja," kata Sustyo di Sekolah Darurat Kartini, Jalan Lodan, Ancol,
Jakarta Utara, Senin (26/11/2012).
Susatyo mendengarkan kisah
perjuangan ibu guru kembar bernama Sri Rossyati dan Sri Irianningsih
yang terancam turut digusur. Namun Susatyo malah bertanya lokasi yang
akan digunakan sekolah tersebut jika digusur.
"Ditunjukkan lahan
di belakang, saya langsung iya kan (bangun gedung baru). Tapi cek ke
lokasi tanah cuman ada 109 meter persegi, mau jadi apa? Masa cuman
seukuran itu. Saya cari lahan lagi 20x10 meter, saya anggap wakafnya
Polsek lah. Kalau pembangunan yang sederhana saja, Insya Allah bisa jadi
ada beberapa rekan yang bisa saya hubungi," ujar Susatyo.
Sehari
setelah itu, Susatyo menuturkan langsung rapat dengan jajarannya dan
menghubungi PT Sriwijaya Air yang memang berkantor di wilayahnya.
"Pemikiran saya seperti orang bangun masjid, lalu saya menghubungi
Sriwijaya Air siangnya, baru dapat kabar malam pukul 00.30 WIB,
Sriwijaya Air mau bantu," ujarnya.
Polsek Pademangan mengusahakan
lahan yang digunakan dan dana pembangunannya dari Sriwijaya Air sekitar
Rp 500 juta. Rencana Susatyo ini pun tersampaikan ke Polres Jakarta
Utara dan Polda Metro Jaya.
"Kita ketemu orang-orang, kita buat
denah segala macam dan bangunan dengan bahan ringan karena berdekatan
rel kereta. Kita juga cari psikis lingkungannya, lingkungan ini kan
kumuh jadi dekat dengan para muridnya," ujar Susatyo.
Susatyo
berharap upayanya ini mampu mengurangi potensi gangguan keamanan dan
ketertiban masyarakat. Akar gangguan tersebut diyakini bisa diberantas
dengan pendidikan yang baik dan terjangkau.
"Saya melihat ini
peluang untuk polisi menyelesaikan. Selama ini polisi dinilai
menyelesaikan masalah di ujungnya, sekarang ada peluang menyelesaikan di
awal, melalui pendidikan berakhlak ini yang saya lihat dan semangat ibu
ini," tutup Susatyo.
Sekolah Darurat Kartini adalah sekolah yang
tidak pernah memungut biaya sepeser pun kepada 621 muridnya sejak 1990.
Sekolah Darurat Kartini merupakan sekolah yang dikelola oleh dua kakak
beradik kembar bernama Sri Rossyati dan Sri Irianingsih. Sekolah ini
sudah berdiri selama 22 tahun dan tercatat 6 kali berpindah tempat
karena tergusur.
Saat didirikan pada tahun 1990, Sekolah Darurat
Kartini berlokasi di Pluit. Karena penggusuran lalu pindah ke Ancol,
Penjaringan, Kali Jodo, dan sekarang di pinggiran rel kereta Bandengan,
yang ke semuanya berlokasi di Jakarta Utara.
Sekolah ini
dipindahkan ke gedung yang akan dibangun karena didasari UU Nomor
23/2007 tentang Perkeretaapian, yakni bangunan dengan radius 6 meter
dari bantaran rel akan ditertibkan jika tidak mempunyai izin. Surat
pemindahan lokasi tersebut diterima sejak 2 Juli dengan masa tenggat
tanggal 9 September lalu.
(vid/rmd)