Aprizal Rahmatullah - detikNews
Jakarta - Mabes Polri mensinyalir pelaku teror bom buku hidup berada di tengah masyarakat. Masyarakat diimbau untuk mencurigai setiap warga pendatang.
"Polri sangat mengharapkan informasi. Mengantisipasi aksi teror ini kami sangat mengharapkan bantuan masyarakat," kata Kabagpenum Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Jumat (18/3/2011).
Boy meminta masyarakat kembali mengaktifkan sistem keamanan di sekitar lingkungan. Seperti aturan wajib lapor kepada pejabat berwenang agar mempersempit ruang gerak pelaku.
"Aktivitas wajib lapor terhadap pendatang baru kepada RT RW di lingkungan sekitar," jelasnya.
Boy mengimbau agar masyarakat jangan segan melapor kepada polisi atau aparat setempat jika menemukan hal-hal yang mencurigakan. "Kami yakin para pelaku ini adalah orang yang berbaur dengan masyarakat. Apakah dia di Jakarta atau di luar Jakarta," imbuh Boy.
"Silakan melapor kepada kami. Kami tentu akan melakukan tindakan untuk mengantisipasi," tandasnya.
(ape/nrl)
Jumat, 18 Maret 2011
Selasa, 08 Maret 2011
KEMBALI KE TITIK NOL
Oleh: Amir Syarif Siregar
KALIMANTAN BARAT - DETIK Travel-Sebagai ibukota provinsi Kalimantan Barat, Pontianak saat ini telah jauh berkembang. Beberapa pengunjung bahkan mulai membandingkan tingkat kepadatan kota ini dengan tingkat kepadatan kota-kota besar lain di Indonesia seperti Medan ataupun Bandung. Tak jarang, ketika kemacetan mulai mendera, beberapa bahkan mulai berceloteh bahwa Pontianak semakin meniru Jakarta. Tak hanya dari tingkat kemacetan, jika dilihat dari sekilas masyarakatnya yang berlalu lalang serta bangunan-bangunan besar yang berada di pusat kota, memang Pontianak telah berada di tingkat yang hampir setara dengan Jakarta ataupun kota-kota besar lainnya.
Berbicara mengenai Pontianak tentu saja tidak akan lepas dari membicarakan letak geografis kota ini yang dilalui oleh garis lintang nol derajat Bumi atau yang lazim disebut sebagai garis khatulistiwa. Hal ini memang telah menjadi salah satu ciri khusus dari kota ini, yang ditandai dengan pembangunan sebuah monumen khusus di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara yang dikenal dengan nama Monumen Equator. Selain penanda kota, bentuknya yang khas ternyata juga mampu menarik perhatian para pengunjung untuk menjadikan tempat ini sebagai salah satu obyek wisata selama mereka berada di Pontianak.
Awalnya, bangunan Monumen Equator sendiri tidak semegah sekarang. Dibangun pada tahun 1928, yang terdapat di wilayah tersebut hanyalah sebuah tonggak dengan anak panah yang berada di atasnya. Pemilihan wilayah tempat peletakan tonggak tersebut tentu dilakukan dengan sangat hati-hati. Dilakukan oleh sebuah ekspedisi yang datang dari Belanda, tempat peletakan tonggak itu sendiri merupakan titik tepat dimana kota Pontianak benar-benar berada di bawah garis lintang nol derajat Bumi. Dua tahun kemudian, tonggak tersebut kemudian disempurnakan dengan penambahan lingkaran di sekitar anak panah. Setelah beberapa kali direnovasi, Monumen Equator tersebut kembali mengalami renovasi pada tahun 1990 dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang aslinya. Peresmiannya sendiri dilakukan pada tanggal 21 September 1991. Sekelumit kisah ini dapat dilihat oleh para pengunjung dalam sebuah catatan yang terdapat di dalam Monumen Equator tersebut.
Puas berkeliling dalam gedung Monumen Equator -- yang diisi dengan banyk pengetahuan mengenai astronomi dan sejarahnya -- pengunjung dapat membeli beberapa cinderamata di sebuah toko yang terletak tidak jauh dari Monumen Equator sendiri.
(Amir Syarif Siregar / gst)
Kamis, 24 Februari 2011
UGM Ciptakan Pengisap Jentik Nyamuk
Editor: yuli
Jumat, 18 Februari 2011 | 07:04 WIB
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menciptakan alat isap jentik nyamuk elektrik mekanik sederhana yang diberi nama Gama Kuras.
"Gama Kuras adalah alat untuk membersihkan jentik nyamuk di bak mandi atau bak penampungan air tanpa menguras atau membuang air di bak," kata Ketua Tim Pencipta Gama Kuras Tri Baskoro Unggul Saptoto di Yogyakarta, Jumat (18/2/2011).
Alat itu dapat digerakkan mengikuti sasaran jentik nyamuk yang akan dituju. Alat ini tidak menggunakan bahan kimia racun pembunuh jentik nyamuk.
Ia mengatakan, keunggulan Gama Kuras antara lain sebagai alat isap elektrik mekanik dengan sistem resirkulasi air yang mampu menangkap 50 jentik nyamuk dalam waktu 140 detik.
"Dengan demikian, masyarakat tidak perlu lagi membuang air dengan sia-sia saat menguras bak untuk membersihkan jentik nyamuk," kata Ketua Minat Entomologi Kedokteran Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran UGM ini.
Menurut dia, pembuatan prototipe Gama Kuras sangat sederhana. Alat itu menggunakan pompa aerator dengan daya isap maksimum dan dihubungkan dengan sebuah botol plastik berlubang kecil pada dindingnya dengan dibalut kain yang berfungsi sebagai penyaring (filter).
"Jentik yang terisap kemudian akan masuk ke perangkap saringan, sedangkan air akan kembali ke bak penampungan sehingga tidak ada air yang terbuang. Semua komponen lokal tersebut disatukan di sebuah pipa pralon yang berfungsi sebagai pegangan," katanya.
Ia berharap ada mitra usaha yang bisa bekerja sama untuk menyederhanakan bentuk dan memproduksi alat tersebut.
Dengan demikian, menurut dia, alat itu dapat diproduksi dalam jumlah banyak guna menekan penyebaran nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah dengue.
"Penggunaan alat ini merupakan cara yang efektif untuk menghentikan penyebaran penyakit demam berdarah dengue karena membersihkan jentik nyamuk di tempat apa pun merupakan cara paling jitu dalam menurunkan populasi nyamuk penular penyakit itu," katanya.
"Gama Kuras adalah alat untuk membersihkan jentik nyamuk di bak mandi atau bak penampungan air tanpa menguras atau membuang air di bak," kata Ketua Tim Pencipta Gama Kuras Tri Baskoro Unggul Saptoto di Yogyakarta, Jumat (18/2/2011).
Alat itu dapat digerakkan mengikuti sasaran jentik nyamuk yang akan dituju. Alat ini tidak menggunakan bahan kimia racun pembunuh jentik nyamuk.
Ia mengatakan, keunggulan Gama Kuras antara lain sebagai alat isap elektrik mekanik dengan sistem resirkulasi air yang mampu menangkap 50 jentik nyamuk dalam waktu 140 detik.
"Dengan demikian, masyarakat tidak perlu lagi membuang air dengan sia-sia saat menguras bak untuk membersihkan jentik nyamuk," kata Ketua Minat Entomologi Kedokteran Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran UGM ini.
Menurut dia, pembuatan prototipe Gama Kuras sangat sederhana. Alat itu menggunakan pompa aerator dengan daya isap maksimum dan dihubungkan dengan sebuah botol plastik berlubang kecil pada dindingnya dengan dibalut kain yang berfungsi sebagai penyaring (filter).
"Jentik yang terisap kemudian akan masuk ke perangkap saringan, sedangkan air akan kembali ke bak penampungan sehingga tidak ada air yang terbuang. Semua komponen lokal tersebut disatukan di sebuah pipa pralon yang berfungsi sebagai pegangan," katanya.
Ia berharap ada mitra usaha yang bisa bekerja sama untuk menyederhanakan bentuk dan memproduksi alat tersebut.
Dengan demikian, menurut dia, alat itu dapat diproduksi dalam jumlah banyak guna menekan penyebaran nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah dengue.
"Penggunaan alat ini merupakan cara yang efektif untuk menghentikan penyebaran penyakit demam berdarah dengue karena membersihkan jentik nyamuk di tempat apa pun merupakan cara paling jitu dalam menurunkan populasi nyamuk penular penyakit itu," katanya.
Sumber :ANT
Rabu, 26 Januari 2011
BULAN JANUARI 2011 SUDAH 10 WARGA TESERANG DBD
Kebon Jeruk 26 Januari 2011- Lurah Kebon Jeruk dan Kepala Puskesmas Kebon Jeruk Kecamatan Kebon Jeruk Jakarta Barat mengundang para Ketua RW, Ketua RT dan para Kader Jumantik se Kelurahan Kebon Jeruk dalam rangka menjelaskan bahwa Demam Berdarah sudah menghawatirkan menjangkiti warga Kelurahan Kebon Jeruk karena di bulan Januari 2011 saja sudah sebanyak 10 orang warga sudah terserang DBD walaupun tidak sampai ada korban meninggal harus diwaspadai.
Kepala Puskesmas Kebon Jeruk mengingatkan kepada para Kader Jumantik dan Pengurus RT dan RW untuk meningkatkan PSN ( Pemberatasan Sarang Nyamuk ) setiap Jumat, dijelaskan lebih lanjut bahwa nyamuk pembawa virus DBD mencari makan / menggigit pada siang hari dan hampir dipastikan bahwa nyamuk yang terbang disiang hari adalah pembawa virus DBD dengan ciri-ciri warna hitam berbintik putih dengan siklus dari larva (jentik) menjadi nyamuk dewasa selama satu minggu, disarankan kepada putra putrinya diberikan lotion anti nyamuk ketika berada di sekolah karena dikhawatirkan terjangkit dari tempat lain.
Kepala Puskesmas Kebon Jeruk mengingatkan kepada para Kader Jumantik dan Pengurus RT dan RW untuk meningkatkan PSN ( Pemberatasan Sarang Nyamuk ) setiap Jumat, dijelaskan lebih lanjut bahwa nyamuk pembawa virus DBD mencari makan / menggigit pada siang hari dan hampir dipastikan bahwa nyamuk yang terbang disiang hari adalah pembawa virus DBD dengan ciri-ciri warna hitam berbintik putih dengan siklus dari larva (jentik) menjadi nyamuk dewasa selama satu minggu, disarankan kepada putra putrinya diberikan lotion anti nyamuk ketika berada di sekolah karena dikhawatirkan terjangkit dari tempat lain.
Selasa, 28 Desember 2010
Jebakan 'Bangsal Bersalin' untuk Cegah Nyamuk Demam Berdarah
Merry Wahyuningsih - detikHealthNew Orleans, Penyebaran nyamuk penyebab demam berdarah makin merajalela, tak hanya di Indonesia tetapi juga negara-negara tropis lainnya. Untuk mengatasinya, kini peneliti sedang mengembangkan perangkap baru berupa 'bangsal bersalin' untuk mencegah penyebaran dan penularan demam berdarah.
Peneliti di Tulane University tengah mengembangkan jebakan yang inovatif untuk melawan demam berdarah. Peneliti merancang semacam bangsal bersalin yang mengandung campuran bahan kimia dan dirancang khusus sebagai tempat bertelur nyamuk.
'Bangsal bersalin' ini dirancang agar nyamuk merasa nyaman dan akhirnya masuk ke tempat tersebut untuk bertelur. Tapi jika nyamuk telah masuk, maka nyamuk beserta calon anak-anaknya tidak akan punya jalan keluar hidup-hidup.
Universitas juga akan mulai studi percontohan untuk melihat apakah galon perangkap berukuran kecil yang efektif, strategi dan murah untuk mencegah penularan demam berdarah, yaitu virus yang ditularkan oleh nyamuk paling luas dan mematikan di dunia.
'Bangsal bersalin' atau perangkap Tulane tersebut tampak seperti tong sampah, kecil hitam dengan ukuran tinggi 12 inci (30,5 cm) dengan lubang dengan tutup atas berwarna merah dan cerah.
Perangkap tersebut berisi campuran air dan atraktan (senyawa kimia yang mempunyai daya tarik terhadap serangga) khusus yang menyerupai tempat ideal bagi nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti) untuk bertelur, yaitu seperti campuran bakteri dan daun membusuk.
Air dicampur dengan pestisida untuk membunuh telur nyamuk dan kontainer dipagari dengan kain insektisida yang dirancang untuk membunuh nyamuk dewasa.
"Setelah malaria, demam berdarah adalah penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk yang paling penting di dunia dan merupakan penyebab utama penyakit dan kematian di daerah tropis," kata Fajar Wesson, profesor kedokteran tropis di Tulane University School of Public Health and Tropical Medicine, dilansir Medindia, Senin (27/12/2010).
Menurut Wesson, saat ini belum ada cara dan juga vaksin atau obat yang dapat digunakan secara luas dan multinasional untuk mengurangi penularan demam berdarah.
Satu-satunya cara efektif untuk menghentikan penularan adalah dengan mengurangi populasi nyamuk, tapi pengendalian nyamuk hampir tidak ada di kebanyakan daerah tempat virus umum ditemukan.
"Itu terlalu mahal dan lingkungan berbahaya menggunakan pestisida secara luas dan banyak. Nyamuk juga telah bisa mengembangkan resistensi terhadap insektisida. Bila perangkap ini berhasil, kami pikir itu dapat mengubah kehidupan orang-orang, terutama yang hidup di daerah tropis," jelas Prof Wesson.
Peneliti berencana untuk menyebarkan 10.000 perangkap ke Iquitos di Peru, sebuah daerah di hutan hujan Amazon yang mana demam berdarah adalah masalah konstan.
Jika perangkap terbukti berhasil, pengujian lebih lanjut akan dilakukan di Karibia dan Thailand.
(mer/ir)
Peneliti di Tulane University tengah mengembangkan jebakan yang inovatif untuk melawan demam berdarah. Peneliti merancang semacam bangsal bersalin yang mengandung campuran bahan kimia dan dirancang khusus sebagai tempat bertelur nyamuk.
'Bangsal bersalin' ini dirancang agar nyamuk merasa nyaman dan akhirnya masuk ke tempat tersebut untuk bertelur. Tapi jika nyamuk telah masuk, maka nyamuk beserta calon anak-anaknya tidak akan punya jalan keluar hidup-hidup.
Universitas juga akan mulai studi percontohan untuk melihat apakah galon perangkap berukuran kecil yang efektif, strategi dan murah untuk mencegah penularan demam berdarah, yaitu virus yang ditularkan oleh nyamuk paling luas dan mematikan di dunia.
'Bangsal bersalin' atau perangkap Tulane tersebut tampak seperti tong sampah, kecil hitam dengan ukuran tinggi 12 inci (30,5 cm) dengan lubang dengan tutup atas berwarna merah dan cerah.
Perangkap tersebut berisi campuran air dan atraktan (senyawa kimia yang mempunyai daya tarik terhadap serangga) khusus yang menyerupai tempat ideal bagi nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti) untuk bertelur, yaitu seperti campuran bakteri dan daun membusuk.
Air dicampur dengan pestisida untuk membunuh telur nyamuk dan kontainer dipagari dengan kain insektisida yang dirancang untuk membunuh nyamuk dewasa.
"Setelah malaria, demam berdarah adalah penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk yang paling penting di dunia dan merupakan penyebab utama penyakit dan kematian di daerah tropis," kata Fajar Wesson, profesor kedokteran tropis di Tulane University School of Public Health and Tropical Medicine, dilansir Medindia, Senin (27/12/2010).
Menurut Wesson, saat ini belum ada cara dan juga vaksin atau obat yang dapat digunakan secara luas dan multinasional untuk mengurangi penularan demam berdarah.
Satu-satunya cara efektif untuk menghentikan penularan adalah dengan mengurangi populasi nyamuk, tapi pengendalian nyamuk hampir tidak ada di kebanyakan daerah tempat virus umum ditemukan.
"Itu terlalu mahal dan lingkungan berbahaya menggunakan pestisida secara luas dan banyak. Nyamuk juga telah bisa mengembangkan resistensi terhadap insektisida. Bila perangkap ini berhasil, kami pikir itu dapat mengubah kehidupan orang-orang, terutama yang hidup di daerah tropis," jelas Prof Wesson.
Peneliti berencana untuk menyebarkan 10.000 perangkap ke Iquitos di Peru, sebuah daerah di hutan hujan Amazon yang mana demam berdarah adalah masalah konstan.
Jika perangkap terbukti berhasil, pengujian lebih lanjut akan dilakukan di Karibia dan Thailand.
(mer/ir)
Minggu, 12 Desember 2010
ICW Datangi Kejati DKI Terkait Dana BOS
Jakarta (ANTARA) - Indonesia Corruption Watch (ICW) segera mendatangi Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta guna mengklarifikasi keberadaan bukti-bukti awal dugaan korupsi Rp4,5 miliar dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SDN 012 Rawamangun Pagi, Jakarta .
Berdasar keterangan tertulis Wakil Koordinator ICW, Adnan Topan Husodo, di Jakarta, Minggu, ICW akan mengklarifikasi pada Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI Jakarta, Soedibyo, terkait pernyataan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Jakarta bahwa Kejati DKI Jakarta belum menyerahkan bukti-bukti awal yang memadai untuk dilakukan audit investigatif terkait dugaan korupsi dana BOS di SDN 012 Rawamangun.
Sebelumnya surat BPKP perwakilan Jakarta kepada Kejati DKI Jakarta tertanggal 10 November 2010 menyatakan "tidak ditemukan bukti-bukti awal penyimpangan" dalam pengelolaan dana BOS, Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), Dana Bantuan (Block Grant) pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Komite Sekolah di SDN 012 Rawamangun pagi.
Berdasarkan klarifikasi ICW dengan Deputi Audit Investigatif BPKP, Suradji, dan Kepala BPKP Perwakilan 2 DKI Jakarta diketahui bahwa alasan BPKP tidak menemukan bukti-bukti awal penyimpangan terkait kasus tersebut karena Kejati Jakarta belum menyerahkan bukti-bukti awal yang memadai untuk dilakukan audit investigatif.
BPKP Perwakilan Jakarta akhirnya memutuskan menunda audit terhadap dugaan dana yang diselewengkan di SDN 012 Rawamangun, katanya.
Perlu audit
Kajati DKI Jakarta, Soedibyo sendiri menyatakan belum dapat menetapkan tersangka dari kasus dugaan korupsi dana BOS, BOP, dan Dana Bantuan pada RSBI dan Komite Sekolah SDN 012 Rawamangun karena membutuhkan audit kerugian negara atau daerah oleh BPKP.
Ia mengatakan kehadiran ICW di Kejati DKI Jakarta pada hari Senin (13/12), selain mengklarifikasi informasi BPKP tersebut, sekaligus memantau kinerja pengusutan kasus korupsi dan bahan untuk pelaporan kinerja Kajati dan stafnya kepada Kejaksaan Agung, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
BPK Perwakilan Jakarta sebelumnya menemukan indikasi dan potensi kerugian negara paling sedikit R 5,7 miliar dalam pengelolaan dana BOS, BOP, dan Dana Bantuan RSBI di tujuh sekolah negeri Jakarta.
Kerugian negara terjadi antara lain, karena tidak disalurkannya dana tersebut oleh smp induk pada pengelola TKBM, pembayaran honor tidak didasari pada suatu kegiatan, pemeliharaan tidak sesuai petunjuk teknis, penggunaan dana tidak didukung bukti memadai, kelebihan pembayaran honor, pembelian kebutuhan sekolah tidak diyakini kebenarannya.
Duplikasi pembayaran atas pengeluaran makan dan minum, laporan pertanggungjawaban yang disampaikan pada Sudin Pendidikan tidak sesuai realisasi, pertanggungjawaban dana BOS dan BOP hilang, serta menggunakan materai yang belum berlaku.
Berdasar keterangan tertulis Wakil Koordinator ICW, Adnan Topan Husodo, di Jakarta, Minggu, ICW akan mengklarifikasi pada Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI Jakarta, Soedibyo, terkait pernyataan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Jakarta bahwa Kejati DKI Jakarta belum menyerahkan bukti-bukti awal yang memadai untuk dilakukan audit investigatif terkait dugaan korupsi dana BOS di SDN 012 Rawamangun.
Sebelumnya surat BPKP perwakilan Jakarta kepada Kejati DKI Jakarta tertanggal 10 November 2010 menyatakan "tidak ditemukan bukti-bukti awal penyimpangan" dalam pengelolaan dana BOS, Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), Dana Bantuan (Block Grant) pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Komite Sekolah di SDN 012 Rawamangun pagi.
Berdasarkan klarifikasi ICW dengan Deputi Audit Investigatif BPKP, Suradji, dan Kepala BPKP Perwakilan 2 DKI Jakarta diketahui bahwa alasan BPKP tidak menemukan bukti-bukti awal penyimpangan terkait kasus tersebut karena Kejati Jakarta belum menyerahkan bukti-bukti awal yang memadai untuk dilakukan audit investigatif.
BPKP Perwakilan Jakarta akhirnya memutuskan menunda audit terhadap dugaan dana yang diselewengkan di SDN 012 Rawamangun, katanya.
Perlu audit
Kajati DKI Jakarta, Soedibyo sendiri menyatakan belum dapat menetapkan tersangka dari kasus dugaan korupsi dana BOS, BOP, dan Dana Bantuan pada RSBI dan Komite Sekolah SDN 012 Rawamangun karena membutuhkan audit kerugian negara atau daerah oleh BPKP.
Ia mengatakan kehadiran ICW di Kejati DKI Jakarta pada hari Senin (13/12), selain mengklarifikasi informasi BPKP tersebut, sekaligus memantau kinerja pengusutan kasus korupsi dan bahan untuk pelaporan kinerja Kajati dan stafnya kepada Kejaksaan Agung, Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
BPK Perwakilan Jakarta sebelumnya menemukan indikasi dan potensi kerugian negara paling sedikit R 5,7 miliar dalam pengelolaan dana BOS, BOP, dan Dana Bantuan RSBI di tujuh sekolah negeri Jakarta.
Kerugian negara terjadi antara lain, karena tidak disalurkannya dana tersebut oleh smp induk pada pengelola TKBM, pembayaran honor tidak didasari pada suatu kegiatan, pemeliharaan tidak sesuai petunjuk teknis, penggunaan dana tidak didukung bukti memadai, kelebihan pembayaran honor, pembelian kebutuhan sekolah tidak diyakini kebenarannya.
Duplikasi pembayaran atas pengeluaran makan dan minum, laporan pertanggungjawaban yang disampaikan pada Sudin Pendidikan tidak sesuai realisasi, pertanggungjawaban dana BOS dan BOP hilang, serta menggunakan materai yang belum berlaku.
Selasa, 07 Desember 2010
MUI Luruskan Sisi Keagamaan Terkait Mbah Priok
Jakarta (ANTARA) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan meluruskan sisi keagamaan terkait makam Mbah Priok di Taman Pemakaman Umum (TPU) Koja, Jakarta Utara yang menimbulkan kerusuhan ketika akan ditertibkan oleh Satpol PP pada 14 April lalu.
"Ada banyak yang perlu diluruskan terkait sisi keagamaan karena mengalami kekeliruan. Tetapi saya tidak bisa detail menyampaikannya karena sangat sensitif," kata seorang anggota tim peneliti MUI Roby Nurhadi ketika menyampaikan hasil penelitian ke Gubernur Fauzi Bowo di Balaikota DKI Jakarta, Senin.
Penelitian yang dilakukan MUI DKI itu juga menggandeng sejarawan seperti Alwi Shihab dan JJ Rizal, para pakar dari Universitas Indonesia dan termasuk ahli dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
"Semua itu dilakukan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu hasil penelitian kita, tidak berdasarkan meja-meja rapat atau berdasarkan perasaan, melainkan melalui riset yang mendalam dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmu pengetahuan," kata Roby.
Dari hasil penelitian yang memakan waktu lumayan lama tersebut, MUI merekomendasikan perlu adanya pelurusan sejarah dan pemindahan makam.
Salah satu hasil yang ditemukan adalah bahwa tanggal kelahiran Habib Hasan Al Hadad bukan pada abad 17 seperti yang diklaim selama ini melainkan lahir pada abad 18, kata Roby.
Begitu juga dengan waktu meninggal, penelitian MUI tersebut menemukan bahwa Habib Hasan Al Hadad meninggal pada tahun 1927 bukan pada abad 18.
"Kami juga menemukan makam Mbah Priok sudah dipindahkan ke TPU Semper dari TPU Dobo, Jakarta Utara. Kami memiliki dokumen yang menegaskan hal itu dan sebagian pihak dari Mbah Priok mengakui kebenarannya," ujar Roby.
Sementara terkait dengan masalah keagamaan, MUI merekomendasikan supaya umat Islam tidak bersikap berlebihan dalam memuja Mbah Priok yang dalam kerusuhan bulan April lalu menelan korban tewas tiga petugas Satpol PP dan ratusan orang lainnya luka-luka.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mulai melakukan sosialisasi hasil penelitian MUI itu minggu depan kepada masyarakat luas.
"Saya sudah terima hasil penelitian yang mendapatkan tugas dari PMI dan MUI pusat untuk melakukan penelitian berdasarkan riset yang mendalam bersama para pakar sejarah dan ilmuwan," kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo usai menerima MUI DKI di kantornya.
Walikota Jakarta Utara Bambang Soegiyono mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Utara akan menyebarkan hasil penelitian, analisa dan riset MUI DKI kepada ahli waris, ulama, majelis taklim, kelompok pengajian dan tokoh masyarakat di kawasan Jakarta Utara.
"Sosialisasi akan melibatkan langsung MUI DKI difasilitasi Pemkot Jakarta Utara. Pekan depan kita akan sosialisasikan ke masyarakat hasil penelitian ini, dengan begitu semua paham fakta yang sebenarnya dari sisi makam, sejarah dan keagamaan," kata Bambang.
Sosialisasi disebut Bambang akan dilakukan dengan membagikan buku-buku hasil penelitian ke kelompok-kelompok masyarakat dan juga akan dibuatkan leaflet atau selebaran kepada seluruh masyarakat Jakarta Utara.
"Dengan harapan mereka mengetahui dan memahami fakta yang sebenarnya, dan peristiwa ini merupakan yang pertama dan yang terakhir," kata Bambang.
From : Viva News
"Ada banyak yang perlu diluruskan terkait sisi keagamaan karena mengalami kekeliruan. Tetapi saya tidak bisa detail menyampaikannya karena sangat sensitif," kata seorang anggota tim peneliti MUI Roby Nurhadi ketika menyampaikan hasil penelitian ke Gubernur Fauzi Bowo di Balaikota DKI Jakarta, Senin.
Penelitian yang dilakukan MUI DKI itu juga menggandeng sejarawan seperti Alwi Shihab dan JJ Rizal, para pakar dari Universitas Indonesia dan termasuk ahli dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
"Semua itu dilakukan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu hasil penelitian kita, tidak berdasarkan meja-meja rapat atau berdasarkan perasaan, melainkan melalui riset yang mendalam dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmu pengetahuan," kata Roby.
Dari hasil penelitian yang memakan waktu lumayan lama tersebut, MUI merekomendasikan perlu adanya pelurusan sejarah dan pemindahan makam.
Salah satu hasil yang ditemukan adalah bahwa tanggal kelahiran Habib Hasan Al Hadad bukan pada abad 17 seperti yang diklaim selama ini melainkan lahir pada abad 18, kata Roby.
Begitu juga dengan waktu meninggal, penelitian MUI tersebut menemukan bahwa Habib Hasan Al Hadad meninggal pada tahun 1927 bukan pada abad 18.
"Kami juga menemukan makam Mbah Priok sudah dipindahkan ke TPU Semper dari TPU Dobo, Jakarta Utara. Kami memiliki dokumen yang menegaskan hal itu dan sebagian pihak dari Mbah Priok mengakui kebenarannya," ujar Roby.
Sementara terkait dengan masalah keagamaan, MUI merekomendasikan supaya umat Islam tidak bersikap berlebihan dalam memuja Mbah Priok yang dalam kerusuhan bulan April lalu menelan korban tewas tiga petugas Satpol PP dan ratusan orang lainnya luka-luka.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mulai melakukan sosialisasi hasil penelitian MUI itu minggu depan kepada masyarakat luas.
"Saya sudah terima hasil penelitian yang mendapatkan tugas dari PMI dan MUI pusat untuk melakukan penelitian berdasarkan riset yang mendalam bersama para pakar sejarah dan ilmuwan," kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo usai menerima MUI DKI di kantornya.
Walikota Jakarta Utara Bambang Soegiyono mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Utara akan menyebarkan hasil penelitian, analisa dan riset MUI DKI kepada ahli waris, ulama, majelis taklim, kelompok pengajian dan tokoh masyarakat di kawasan Jakarta Utara.
"Sosialisasi akan melibatkan langsung MUI DKI difasilitasi Pemkot Jakarta Utara. Pekan depan kita akan sosialisasikan ke masyarakat hasil penelitian ini, dengan begitu semua paham fakta yang sebenarnya dari sisi makam, sejarah dan keagamaan," kata Bambang.
Sosialisasi disebut Bambang akan dilakukan dengan membagikan buku-buku hasil penelitian ke kelompok-kelompok masyarakat dan juga akan dibuatkan leaflet atau selebaran kepada seluruh masyarakat Jakarta Utara.
"Dengan harapan mereka mengetahui dan memahami fakta yang sebenarnya, dan peristiwa ini merupakan yang pertama dan yang terakhir," kata Bambang.
From : Viva News
Kamis, 02 Desember 2010
TANGANI TEPAT DBD PADA ANAK
Kebon Jeruk, Kamis 2 Desember 2010 >>Sekretaris Camat Kebon Jeruk Pujiyanto telah membuka acara TEMU WICARA DAN TANYA JAWAB TANGANI TEPAT DBD PADA ANAK, catatan penulis di dalam pengantar pembukaan acara bahwa untuk mencegah wabah DBD diharapkan kepada Kader Jumantik dan seluruh warga untuk giat secara terus menerus menggerakan PSN 30 menit setiap satu minggu satu kali adalah cara ampuh untuk mencegah wabah DBD karena siklus berkembangnya nyamuk dapat dicegah, pemberatasan dengan cara foging/pengasapan dirasakan kurang efektif dan dapat mengganggu kesehatan warga.
Acara yang diselenggarakan oleh PANADOL diikuti oleh para Kader Jumantik se Kelurahan Kebon Jeruk dan para undangan yang terdiri dari pengurus Rt/Rw/PKK dan warga.
Didalam Temu Wicara dipandu sebagai pembicara dr Kiki Samsi SPA dengan judul Tangani Tepat DBD pada anak, Tika Bisono dengan judul Hidup Sehat Agar Terhindar dari DBD dilanjutkan dengan demo memasak.
Pada kesempatan acara tersebut telah diserahkan secara simbolis kenang-kenangan dari PANADOL berupa Papan Pengumuman, Jam Dinding, Kaos untuk Jumantik yang diterimakan kepada Ibu Hj Siti Rohmah Ketua PKK Kelurahan Kebon Jeruk dan Istri dari Yahya SH Lurah Kebon Jeruk
(Mekobas)mau lihat foto lainnya.....
Selasa, 30 November 2010
50 Persen Kasus Demam Berdarah Serang Usia Produktif
TEMPO Interaktif, Jakarta-- Data dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat mencatat, selama Januari-November 2010, sekitar 50 persen kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD) diderita warga usia produktif dari jumlah total 1755 kasus.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat Angliana Dianawati menerangkan, tingginya penderita DBD usia produktif 15-44 tahun disebabkan mobilitas yang tinggi pada usia ini. "Mereka berpindah-pindah. Jadi potensi terkena penyakit DBD tinggi," ujarnya, Selasa (30/11) siang.
Dipaparkan Angliana, di peringkat kedua tertinggi kasus DBD ditempati anak-anak usia 5-14 tahun, yakni sebanyak 29 persen. Sementara warga usia di atas usia 45 tahun sebanyak 9 persen. Dan anak di bawah usia satu tahun dan 1-4 tahun masing-masing 2 persen dan 10 persen.
Kasus demam berdarah dengue di Jakarta Pusat selama beberapa bulan terakhir memang mengalami penurunan. Pada bulan ini tercatat ada 39 kasus DBD. Padahal jumlah total dua bulan sebelumnya mencapai 258 kasus.
Di Kecamatan Kemayoran, yang selama bulan September-Oktober menjadi wilayah terbanyak jumlah penderita DBD dengan 42 kasus, pada bulan November ini penderitanya turun drastis menjadi 3 kasus. "Hingga kini belum tercatat juga adanya korban jiwa di semua kecamatan," ujar Angliana.
Pihaknya terus berupaya menekan angka kasus DBD seminimal mungkin dengan menempatkan petugas “Jumantik” sebanyak satu orang di setiap RT. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) juga dilakukan rutin pada tempat-tempat penampungan air dan tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. "Saya harap induk nyamuk maupun jentik dapat dimusnahkan," ia menekankan.
Untuk pelaksanaan pengasapan atau fogging, tetap dilakukan masing-masing puskesmas di tingkat kecamatan. Namun, fogging baru bisa dilaksanakan setelah dilakukan penelitian epidemiologi (PE) pada sekitar 20 rumah penduduk yang berada dekat dengan penderita.
Jika negatif atau tidak ditemukan jentik, maka di wilayah itu cukup dilakukan PSN saja.
HERU TRIYONO
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat Angliana Dianawati menerangkan, tingginya penderita DBD usia produktif 15-44 tahun disebabkan mobilitas yang tinggi pada usia ini. "Mereka berpindah-pindah. Jadi potensi terkena penyakit DBD tinggi," ujarnya, Selasa (30/11) siang.
Dipaparkan Angliana, di peringkat kedua tertinggi kasus DBD ditempati anak-anak usia 5-14 tahun, yakni sebanyak 29 persen. Sementara warga usia di atas usia 45 tahun sebanyak 9 persen. Dan anak di bawah usia satu tahun dan 1-4 tahun masing-masing 2 persen dan 10 persen.
Kasus demam berdarah dengue di Jakarta Pusat selama beberapa bulan terakhir memang mengalami penurunan. Pada bulan ini tercatat ada 39 kasus DBD. Padahal jumlah total dua bulan sebelumnya mencapai 258 kasus.
Di Kecamatan Kemayoran, yang selama bulan September-Oktober menjadi wilayah terbanyak jumlah penderita DBD dengan 42 kasus, pada bulan November ini penderitanya turun drastis menjadi 3 kasus. "Hingga kini belum tercatat juga adanya korban jiwa di semua kecamatan," ujar Angliana.
Pihaknya terus berupaya menekan angka kasus DBD seminimal mungkin dengan menempatkan petugas “Jumantik” sebanyak satu orang di setiap RT. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) juga dilakukan rutin pada tempat-tempat penampungan air dan tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. "Saya harap induk nyamuk maupun jentik dapat dimusnahkan," ia menekankan.
Untuk pelaksanaan pengasapan atau fogging, tetap dilakukan masing-masing puskesmas di tingkat kecamatan. Namun, fogging baru bisa dilaksanakan setelah dilakukan penelitian epidemiologi (PE) pada sekitar 20 rumah penduduk yang berada dekat dengan penderita.
Jika negatif atau tidak ditemukan jentik, maka di wilayah itu cukup dilakukan PSN saja.
HERU TRIYONO
Laksamana Cheng Ho: Muslim yang Gemar Memakmurkan Masjid
Kisah-Kisah
16/8/2010 | 07 Ramadhan 1431 H | Hits: 2.913
Oleh: Tim dakwatuna.com
dakwatuna.com – Laksamana Cheng Ho dikenal sebagai Muslim yang sangat taat dalam menjalankan ibadah. Tentu saja, keislamannya ini karena dilakukan dari lubuk hatinya yang terdalam.
Bagi Cheng Ho, bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinantikan. Bahkan, pada 7 Desember 1411, sesudah pelayarannya yang ke-3, laksamana kepercayaan kaisar Ming ini menyempatkan pulang ke kampungnya, Kunyang, untuk berziarah ke makam sang ayah. Ketika Ramadhan tiba, ia memilih menjalankan ibadah puasa di kampung halamannya.
Cheng Ho dilahirkan tahun 1371 M di sebuah Provinsi bernama Yunan yang ada di sebelah barat daya Cina. Nama kecilnya adalah Ma Ho atau Ma He. Namun, ia juga dikenal dengan sebutan Sam Bo, Sam Po, atau Ma San Po dalam dialek Fujian. Kadang, ada pula yang memanggil namanya dengan Zheng He atau Cheung Ho dalam dialek Kanton. Menurut beberapa riwayat, nama Muslimnya adalah Haji Mahmud Syams.
Laksamana agung ini adalah seorang Muslim yang sangat taat. Ia merupakan keturunan Cina dari Suku Hui. Ia dilahirkan sebagai anak kedua dari pasangan Ma Hazhi dan Wen, ibunya. Sebagai orang Hui-etnis Cina yang sebagian besar pemeluk Islam-Cheng Ho sejak kecil sudah memeluk agama Islam. Kakek dan ayahnya sudah menunaikan rukun haji. Konon, kata hazhi dalam dialek mandarin mengacu pada kata haji.
Dalam setiap kali melakukan pelayaran, para awak kapal yang beragama Islam juga senantiasa melaksanakan shalat secara berjamaah. Tercatat, beberapa tokoh Muslim yang pernah ikut adalah Ma Huan, Guo Chongli, Fei Xin, Hassan, Sha’ban, dan Pu Heri. ”Kapal-kapalnya diisi dengan prajurit yang kebanyakan terdiri atas orang Islam,” tulis Buya Hamka dalam majalah Star Weekly.
Ma Huan dan Guo Chongli yang fasih berbahasa Arab dan Persia bertugas sebagai penerjemah. Sedangkan, Hassan yang juga pimpinan Masjid Tang Shi di Xian (Provinsi Shan Xi) berperan mempererat hubungan diplomasi Tiongkok dengan negeri-negeri Islam. Hassan juga bertugas memimpin kegiatan-kegiatan keagamaan dalam rombongan ekspedisi, misalnya dalam melaksanakan penguburan jenazah di laut atau memimpin shalat hajat ketika armadanya diserang badai.
Cheng Ho juga dikenal sangat peduli dengan kemakmuran masjid. Tahun 1413, dia merenovasi Masjid Qinging (timur laut Kabupaten Xian). Tahun 1430, ia memugar Masjid San San di Nanjing yang rusak karena terbakar. Pemugaran masjid mendapat bantuan langsung dari kaisar.
Konon, pada ekspedisi terakhir (1431-1433), ia sempat menunaikan ibadah haji sebagai pelengkap menjadi seorang Muslim sejati. Sebagai seorang Muslim, ia juga selalu mengandalkan diplomasi damai dalam setiap pelayarannya. Hamka mengatakan, ”senjata alat pembunuh tidak banyak dalam kapal itu, yang banyak adalah ‘senjata budi’ yang akan dipersembahkan kepada raja-raja yang diziarahi.” (Budi Raharjo/Berbagai sumber/RoL)
16/8/2010 | 07 Ramadhan 1431 H | Hits: 2.913
Oleh: Tim dakwatuna.com
dakwatuna.com – Laksamana Cheng Ho dikenal sebagai Muslim yang sangat taat dalam menjalankan ibadah. Tentu saja, keislamannya ini karena dilakukan dari lubuk hatinya yang terdalam.
Bagi Cheng Ho, bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinantikan. Bahkan, pada 7 Desember 1411, sesudah pelayarannya yang ke-3, laksamana kepercayaan kaisar Ming ini menyempatkan pulang ke kampungnya, Kunyang, untuk berziarah ke makam sang ayah. Ketika Ramadhan tiba, ia memilih menjalankan ibadah puasa di kampung halamannya.
Cheng Ho dilahirkan tahun 1371 M di sebuah Provinsi bernama Yunan yang ada di sebelah barat daya Cina. Nama kecilnya adalah Ma Ho atau Ma He. Namun, ia juga dikenal dengan sebutan Sam Bo, Sam Po, atau Ma San Po dalam dialek Fujian. Kadang, ada pula yang memanggil namanya dengan Zheng He atau Cheung Ho dalam dialek Kanton. Menurut beberapa riwayat, nama Muslimnya adalah Haji Mahmud Syams.
Laksamana agung ini adalah seorang Muslim yang sangat taat. Ia merupakan keturunan Cina dari Suku Hui. Ia dilahirkan sebagai anak kedua dari pasangan Ma Hazhi dan Wen, ibunya. Sebagai orang Hui-etnis Cina yang sebagian besar pemeluk Islam-Cheng Ho sejak kecil sudah memeluk agama Islam. Kakek dan ayahnya sudah menunaikan rukun haji. Konon, kata hazhi dalam dialek mandarin mengacu pada kata haji.
Dalam setiap kali melakukan pelayaran, para awak kapal yang beragama Islam juga senantiasa melaksanakan shalat secara berjamaah. Tercatat, beberapa tokoh Muslim yang pernah ikut adalah Ma Huan, Guo Chongli, Fei Xin, Hassan, Sha’ban, dan Pu Heri. ”Kapal-kapalnya diisi dengan prajurit yang kebanyakan terdiri atas orang Islam,” tulis Buya Hamka dalam majalah Star Weekly.
Ma Huan dan Guo Chongli yang fasih berbahasa Arab dan Persia bertugas sebagai penerjemah. Sedangkan, Hassan yang juga pimpinan Masjid Tang Shi di Xian (Provinsi Shan Xi) berperan mempererat hubungan diplomasi Tiongkok dengan negeri-negeri Islam. Hassan juga bertugas memimpin kegiatan-kegiatan keagamaan dalam rombongan ekspedisi, misalnya dalam melaksanakan penguburan jenazah di laut atau memimpin shalat hajat ketika armadanya diserang badai.
Cheng Ho juga dikenal sangat peduli dengan kemakmuran masjid. Tahun 1413, dia merenovasi Masjid Qinging (timur laut Kabupaten Xian). Tahun 1430, ia memugar Masjid San San di Nanjing yang rusak karena terbakar. Pemugaran masjid mendapat bantuan langsung dari kaisar.
Konon, pada ekspedisi terakhir (1431-1433), ia sempat menunaikan ibadah haji sebagai pelengkap menjadi seorang Muslim sejati. Sebagai seorang Muslim, ia juga selalu mengandalkan diplomasi damai dalam setiap pelayarannya. Hamka mengatakan, ”senjata alat pembunuh tidak banyak dalam kapal itu, yang banyak adalah ‘senjata budi’ yang akan dipersembahkan kepada raja-raja yang diziarahi.” (Budi Raharjo/Berbagai sumber/RoL)
Senin, 15 November 2010
RS Swasta & Puskesmas Bisa Diberdayakan Layani Pasien Gakin
Lia Harahap - detikNews
Jakarta - Wacana untuk menghapus ruang rawat kelas I, II, dan VIP rumah sakit umum daerah (RSUD) DKI Jakarta pun muncul sebagai pertimbangan mengingat ruang rawat kelas III yang selalu penuh sesak dengan pasien. RS Swasta pun bisa diberdayakan untuk melayani pasien keluarga miskin (gakin).
"Dengan adanya kelas I, II, dan VIP itu membantu keterbatasan pendapatan pasien kelas III. Selain itu, RSUD juga dapat membeli alat kesehatan tertentu dan revitalisasi rumah sakit," ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto.
Hal itu disampaikan Prijanto di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (15/11/2010).
Kondisi ruang kelas III yang selalu penuh sesak itu, tak jarang membuat RSUD
tidak bisa lagi menampung pasien yang kebanyakan pasien menengah ke bawah yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan Jaringan Pengamanan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK Gakin). Dan Prijanto mengakui masyarakat Indonesia umumnya lebih dirawat di RSUD lebih tinggi dibandingkan dengan rumah sakit swasta.
"Maka itu kita lihat saja kelas III di RS swasta kosong sedangkan di RSUD sangat penuh. Seperti yang terjadi di RSUD Pasar Rebo, RS Polri yang berada berdekatan. Bahkan kelas III RSUD Pasar Rebo lebih penuh dibandingkan RS Polri," katanya.
Dia menegaskan, jika penghapusan itu semata-mata untuk menjawab kebutuhan
keluarga SKTM dan Gakin, rumah sakit swasta bisa diberdayakan. Sebab, SKTM dan Gakin sebenarnya bisa digunakan untuk sudah bisa digunakan di 85 rumah sakit swasta.
"Janganlah cuma karena ingin menjawab kebutuhan orang yang memiliki Gakin dan SKTM yang akan dirawat, lalu kita mengubah sistem dan kondisi yang sudah mapan itu," katanya.
Alternatif lain yang bisa dipilih untuk membantu memberikan pelayanan pada pasien miskin, Prijanto mengusulkan mengembangkan puskesmas di tingkat kecamatan, terutama untuk fasilitas rawat inap. Namun jika puskesmas masih kurang dipercaya mungkin namanya bisa diganti dengan RSUD Pembantu.
"Kalau orang gengsi berobat di puskesmas, ya saya ganti saja namanya jadi RSUD Pembantu. Sehingga, pelayanan masyarakat bisa lebih dekat dan tidak harus pasien dirujuk ke RSUD. Siapa yang cuma diare, siapa yang Cuma DBD maka datanglah ke RSUD Pembantu itu nantinya," saran Prijanto.
Prijanto juga yakin 44 puskesmas tingkat kecamatan dan 289 puskesmas tingkat kelurahan masih bisa direvitalisasi. Hanya saja, tidak semua puskesmas bisa serentak dibangun untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Kita lihat kebutuhan per wilayah, dan kalau Anda tanya apakah itu bisa saya jawab bisa, tapi ya itu tadi tidak serentak, APBD kita Rp26 triliun, masa membangun segitu saja gak mampu,” tegas Prijanto.
(lia/nwk)
Jakarta - Wacana untuk menghapus ruang rawat kelas I, II, dan VIP rumah sakit umum daerah (RSUD) DKI Jakarta pun muncul sebagai pertimbangan mengingat ruang rawat kelas III yang selalu penuh sesak dengan pasien. RS Swasta pun bisa diberdayakan untuk melayani pasien keluarga miskin (gakin).
"Dengan adanya kelas I, II, dan VIP itu membantu keterbatasan pendapatan pasien kelas III. Selain itu, RSUD juga dapat membeli alat kesehatan tertentu dan revitalisasi rumah sakit," ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto.
Hal itu disampaikan Prijanto di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (15/11/2010).
Kondisi ruang kelas III yang selalu penuh sesak itu, tak jarang membuat RSUD
tidak bisa lagi menampung pasien yang kebanyakan pasien menengah ke bawah yang menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dan Jaringan Pengamanan Kesehatan Keluarga Miskin (JPK Gakin). Dan Prijanto mengakui masyarakat Indonesia umumnya lebih dirawat di RSUD lebih tinggi dibandingkan dengan rumah sakit swasta.
"Maka itu kita lihat saja kelas III di RS swasta kosong sedangkan di RSUD sangat penuh. Seperti yang terjadi di RSUD Pasar Rebo, RS Polri yang berada berdekatan. Bahkan kelas III RSUD Pasar Rebo lebih penuh dibandingkan RS Polri," katanya.
Dia menegaskan, jika penghapusan itu semata-mata untuk menjawab kebutuhan
keluarga SKTM dan Gakin, rumah sakit swasta bisa diberdayakan. Sebab, SKTM dan Gakin sebenarnya bisa digunakan untuk sudah bisa digunakan di 85 rumah sakit swasta.
"Janganlah cuma karena ingin menjawab kebutuhan orang yang memiliki Gakin dan SKTM yang akan dirawat, lalu kita mengubah sistem dan kondisi yang sudah mapan itu," katanya.
Alternatif lain yang bisa dipilih untuk membantu memberikan pelayanan pada pasien miskin, Prijanto mengusulkan mengembangkan puskesmas di tingkat kecamatan, terutama untuk fasilitas rawat inap. Namun jika puskesmas masih kurang dipercaya mungkin namanya bisa diganti dengan RSUD Pembantu.
"Kalau orang gengsi berobat di puskesmas, ya saya ganti saja namanya jadi RSUD Pembantu. Sehingga, pelayanan masyarakat bisa lebih dekat dan tidak harus pasien dirujuk ke RSUD. Siapa yang cuma diare, siapa yang Cuma DBD maka datanglah ke RSUD Pembantu itu nantinya," saran Prijanto.
Prijanto juga yakin 44 puskesmas tingkat kecamatan dan 289 puskesmas tingkat kelurahan masih bisa direvitalisasi. Hanya saja, tidak semua puskesmas bisa serentak dibangun untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Kita lihat kebutuhan per wilayah, dan kalau Anda tanya apakah itu bisa saya jawab bisa, tapi ya itu tadi tidak serentak, APBD kita Rp26 triliun, masa membangun segitu saja gak mampu,” tegas Prijanto.
(lia/nwk)
Wukuf, Pengakuan Manusia di Hadapan Allah
Liputan6.comSelasa, 16 November, Mekkah: Hakekat wukuf di Padang Arafah adalah bentuk pengakuan manusia terhadap keesaan Allah. "Saatnya Anda meminta, Anda memohon dan merengek kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan," kata Quraish Sihab dalam khutbahnya menjelang pelaksanaan wukuf rafah di tenda jemaah Maktour, Senin (15/11).
Menurut Quraish, Allah memiliki nikmat yang tak terhingga. Jika ingin mendapatkannya kita harus yakin Allah mengabulkan. "Mintalah apa saja yang ingin kamu minta, inilah saatnya. Bertobatlah dan berserah diri kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan doa kita."(AIS)
Menurut Quraish, Allah memiliki nikmat yang tak terhingga. Jika ingin mendapatkannya kita harus yakin Allah mengabulkan. "Mintalah apa saja yang ingin kamu minta, inilah saatnya. Bertobatlah dan berserah diri kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan doa kita."(AIS)
Rabu, 10 November 2010
KERJA BHAKTI Sabtu 7 Nopember 2010
Sesuai instruksi Bapak Lurah Kebon Jeruk dengan Suratnya No 418/1.777 Tanggal 4 Oktober 2010 untuk melaksanakan kegiatan kerja bhakti dalam rangka kebersihan lingkungan untuk mencegah wabah demam berdarah agar masing-masing RT untuk mengajak warganya membersihkan lingkungan masing-masing pada Hari Minggu Tanggal 7 Nopember 2010
Warga Rt 004/012 yang sedang membersihkan lingkungannya masing-masing
Pembersihan puing-puing dinding saluran air yang runtuh lebih dari setahun yang lalu dan belum ada tanda-tanda perbaikan di depan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Kebon Jeruk Satu, dibersihkan oleh warga dan para para pedagang di samping Bina Bangsa. Saluran tersebut menghubungkan pembuangan ke Kali Sekretaris dan selama ini menghambat kelancarannya
Warga Rt 004/012 yang sedang membersihkan lingkungannya masing-masing
Pembersihan puing-puing dinding saluran air yang runtuh lebih dari setahun yang lalu dan belum ada tanda-tanda perbaikan di depan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Kebon Jeruk Satu, dibersihkan oleh warga dan para para pedagang di samping Bina Bangsa. Saluran tersebut menghubungkan pembuangan ke Kali Sekretaris dan selama ini menghambat kelancarannya
Selasa, 09 November 2010
Senin, 08 November 2010
Arab Saudi Tetapkan Idul Adha Pada 16 November 2010
Mekkah (ANTARA) - Pemerintah Arab Saudi menetapkan Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 November 2010.
Kantor berita Arab Saudi, SPA, Minggu (7/11) menyebutkan, penetapan itu dilakukan setelah otoritas berwenang di Saudi melakukan pengamatan bulan pada Sabtu (6/11) malam yang diperkuat dengan hasil penghitungan para astronom resmi di Saudi.
Dengan demikian, sekitar 1,5 juta calon haji dari seluruh dunia akan memulai ritual haji diawali dengan Wukuf di Arafah pada 15 November 2010.
Saat ini sebagian besar jemaah Indonesia telah berada di Mekkah untuk menunggu hari puncak haji tersebut.
Kedatangan terakhir jamaah haji Indonesia di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Rabu (10/11), seiring dengan "closing date" bandara tersebut bagi kedatangan jamaah haji pada pukul 24.00 Waktu Arab Saudi.
Sementara itu, pemerintah melalui Badan Hisab dan Rukyat Kementerian Agama RI menetapkan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 Hijriah jatuh pada Rabu, 17 November 2010.
"Kami menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah 1431 Hijriah jatuh pada Senin 8 November 2010 sehingga Idul Adha 10 Dzulhijjah jatuh pada Rabu 17 November 2010," kata Dirjen Bimbingan Masyarakat Kementerian Agama, Nasaruddin Umar di Jakarta, Senin.
Berdasarkan posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia pada Sabtu, 6 November 2010 atau 29 Dzulqaidah 1431 Hijriyah ketinggiannya masih di atas ufuk tapi di bawah dua derajat.
Oleh karena itu, katanya, belum bisa dikatakan masuk dalam bulan Dzulhijjah sehingga digenapkan menjadi 30 hari maka 1 Dzulhijjah ditetapkan setelahnya yaitu pada Senin, 8 November 2010.
MARI MEMBUAT BIOPORI UNTUK SELAMATKAN BUMI
Lubang Resapan
biopori: Mencegah Banjir, Tanah Longsor, dan Pemanasan Global di Kawasan Pemukiman Banjir lagi, banjir lagi. Itulah yang selalu dikeluhkan warga Jakarta dan beberapa kota besar lainnya ketika musim hujan tiba. Banjir terjadi karena curah hujan yang turun begitu tinggi, sedangkan saluran drainase tidak mampu menampungnya. Hal ini semakin diperparah dengan kondisi tanah yang tidak mampu meresapkan air karena ruang terbuka hijau telah dikonversi menjadi pemukiman penduduk.
Sebenarnya, masalah banjir akan segera berakhir dengan lubang resapan biopori (LRB). Lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm ini mampu mempercepat peresapan air hujan. Tak hanya itu, kehadiran LRB juga mampu mengatasi kekeringan, menambah cadangan air tanah, mengurangi emisi karbon dan metan, serta mengubah sampah organik menjadi kompos.
Buku ini merupakan buku alternatif pengetahuan seputar lubang resapan biopori, yang berguna mencegah banjir, tanah longsor, dan pemanasan global di kawasan pemukiman.
biopori: Mencegah Banjir, Tanah Longsor, dan Pemanasan Global di Kawasan Pemukiman Banjir lagi, banjir lagi. Itulah yang selalu dikeluhkan warga Jakarta dan beberapa kota besar lainnya ketika musim hujan tiba. Banjir terjadi karena curah hujan yang turun begitu tinggi, sedangkan saluran drainase tidak mampu menampungnya. Hal ini semakin diperparah dengan kondisi tanah yang tidak mampu meresapkan air karena ruang terbuka hijau telah dikonversi menjadi pemukiman penduduk.
Sebenarnya, masalah banjir akan segera berakhir dengan lubang resapan biopori (LRB). Lubang berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm ini mampu mempercepat peresapan air hujan. Tak hanya itu, kehadiran LRB juga mampu mengatasi kekeringan, menambah cadangan air tanah, mengurangi emisi karbon dan metan, serta mengubah sampah organik menjadi kompos.
Buku ini merupakan buku alternatif pengetahuan seputar lubang resapan biopori, yang berguna mencegah banjir, tanah longsor, dan pemanasan global di kawasan pemukiman.
LAPANGAN FUTSAL DI RT 001 RW 012
futsalicious @ Kebon Jeruk from KASKUSKini di Wilayah Rt 001 Rw 012 telah berdiri Lapangan Futsal untuk umum, lokasi di belakang WISMA IWI Jalan Arjuna Selatan
Langganan:
Postingan (Atom)





